Penghapusan Desentralisasi Guru

Wacana pengambilalihan kewenangan guru dari pemerintahan daerah kabupaten/kota ke pemerintah (pusat) sepertinya benar-benar serius. Kementerian Pendidikan Nasional di dukung Dewan Perwakilan Daerah (DPD RI) tidak main-main menghapus desentralisasi guru. Alasannya sederhana, guru telah menjadi korban pilkada. Para kepala daerah dengan entengnya telah melakukan pemindahan dan pengangkatan guru tanpa prosedur yang seharusnya.

Kalau mau jujur, bukan hanya guru. PNS daerah diberbagai SKPD (provinsi maupun kabupaten/kota) kalau bukan melibatkan diri, yang ikut dilibatkan pun dalam pemilihan kepala daerah, juga menjadi korban kalau tidak untung mendapat jabatan strukutral atau strategis lain.

Kalau mau jujur lagi, bukan hanya guru yang kehilangan gairah mengajar karena pemindahan dan pengangkatan yang mengabaikan standar, norma, prosedur dan kriteria (NSPK), tetapi PNS dilingkungan SKPD pun juga kehilangan semangat kerja dan ini berdampak pula pada dinamika organisasi.

Putus Salah Satu Fungsi Rantai
Perlu diketahui penyelenggaraan pemerintahan daerah tidak bersifat absolut/mutlak sepenuhnya menjadi kewenangan pemerintahan daerah. Hal ini oleh karena setiap kebijakan daerah (Peraturan Daerah) dan/atau kebijakan pemerintah daerah (Peraturan/Keputusan Kepala Daerah) dalam rangka penyelenggaraan urusan pemerintahan yang menjadi kewenangan pemerintahan daerah harus berpedoman pada ketentuan peraturan perundang-undangan termasuk kebijakan nasional berupa Norma, Standar Prosedur dan Kriteria (NSPK) yang ditetapkan pemerintah (Kementerian/Lembaga yang membidangi).

Pemerintahan daerah merupakan subsistem dari sistem pemerintahan nasional dan NSPK yang ditetapkan pemerintah tersebut merupakan benang merah perekat hubungan dan pembagian kewenangan antara pemerintah, pemerintahan daerah provinsi dan pemerintahan daerah kabupaten/kota yang saling terkait, tergantung dan sinergi sebagai satu sistem pemerintahan (Pasal 11 UU No. 32/2004).
Termasuk dalam penyelenggaraan pemerintahan, ada fungsi koordinasi berupa pembinaan, supervisi, evaluasi dan monitoring dari tingkat pemerintahan yang lebih tinggi ke tingkat pemerintahan yang lebih rendah sesuai dengan asas dekonsentrasi.

Terkait desentralisasi guru, ada salah satu fungsi rantai tingkatan pemerintahan yang putus. Jika masing-masing tingkatan pemerintahan memahami tugas pokok dan fungsinya, tentu potret buram birokrasi korban politik lokal tidak akan kita temui, setidaknya bisa meminimalisir kebijakan kepala daerah yang mengabaikan NSPK dalam pemindahan dan pengangkatan PNS termasuk guru.

Bahwa fungsi utama pemerintah (pusat), adalah pembinaan, supervisi dan evaluasi/monitoring terhadap kinerja gubernur. Selanjutnya, melalui asas dekonsentrasi, pemerintah melimpahkan sebagian kewenangannya kepada gubernur untuk melakukan hal yang sama (pembinaan, supervisi, dan evaluasi/monitoring) terhadap kinerja bupati/walikota.

Pelimpahan kewenangan itu tentu saja bukan dengan air liur semata ataupun dengan selembar surat keputusan, tapi, disertai dengan pendanaan yang cukup yang dananya berasal dari APBN sesuai dengan urusan atau tugas yang didekonsentrasikan.

Namun, implementasi dekonsentrasi (pembinaan, supervisi, dan evaluasi/monitoring) selama ini tidak berjalan maksimal, karena alokasi dana untuk kegiatan-kegiatan tersebut sangat minim. Pemerintah cenderung mengalokasikan dana dekonsentrasi dalam bentuk kegiatan fisik, dibanding kegaiatan rapat korodinasi dalam rangka pembinaan, supervisi dan evaluasi/monitoring tersebut. Padahal sangat jelas melalu PP No. 7 Tahun 2008 tentang Dekonsentrasi dan Tugas Pembantuan, kegiatan yang didanai dari dekonsentrasi adalah urusan pemerintah pusat berupa kegiatan non fisik.

Pemerintah tidak boleh serta merta menganggap daerah telah gagal mengurus guru. Sebab boleh jadi, fungsi rantai pemerintahlah yang putus. Fungsi pembinaan, supervisi, evaluasi dan monitoring yang diemban pemerintah tidak dijalankan. Bisa jadi pengelolaan guru di pemerintahan daerah kabupaten/kota gagal atau tidak sesuai dengan bentuk yang seharusnya oleh karena kebijakan walikota/bupati dalam pemindahan ataupun pengangkatan guru, kurang mendapat pembinaan, pengawasan bahkan evaluasi dari gubernur selaku wakil pemerintah pusat. Fungsi yang diemban gubernur ini pun tidak jalan, bisa jadi karena kurangnya dukungan dana dari pemerintah dan/atau oleh karena kurangnya pembinaan, evaluasi dan monitoring yang diterima gubernur dari pemerintah.

Dimana pemerintah pusat saat guru ataupun PNS SKPD dipindahkan dan diangkat oleh para kepala daerah yang mengabaikan NSPK? Mestinya para kepala daerah yang mengeluarkan kebijakan tersebutlah yang diberi sanksi.

Setiap Urusan ada Kekuasaan, Fasilitas dan Uang
Wujud otonomi daerah adalah desentralisasi. Penyerahan urusan pemerintahan dari pemerintah ke daerah otonom, dalam hal ini pemerintahan daerah. Sikap pemerintah melalui Kementerian Pendidikan Nasional untuk menghapus desentralisasi guru, menunjukan sikap arogansi pemerintah yang nyata.

Asas-asas penyelenggaraan pemerintahan mestinya menjadi pedoman bagi pusat dan daerah. Bahwa pusat dalam menyelenggarakan pemerintahannya menggunakan asas desentralisasi, dekonsentrasi dan tugas pembantuan, sedang daerah menggunakan asas otonomi dan tugas pembantuan. Masing-masing diselenggarakan dengan pedoman yang ada misalnya sebagaimana diatur dalam PP No. 38 tahun 2007 dan PP No. 7 Tahun 2008.

Buruknya penyelenggaraan pemerintahan daerah, adalah tidak sedikit karena kelalaian pemerintah pusat dalam menjalankan fungsi pembinaannya, supervisi, monitoring dan evaluasi kinerja para kepala daerah. Alokasi APBN yang seharusnya melekat untuk kegiatan-kegiatan tersebut, oleh kementerian/lembaga cenderung digunakan untuk kegiatan-kegaiatan fisik, yang semestinya untuk kegiatan-kegaiatan fisik di daerah masuk sebagai komponen dana perimbangan dalam struktur APBD.

Bahkan secara nyata desentralisasi guru tidak dibarengi dengan desentralisasi fiskal. Bahwa pembiayaan atas guru bukan semata-mata melalui gaji/upah bulanan, tapi ada kesejahteraan lain melalui honor-honor kegiatan yang dibenarkan peraturan perundang-undangan yang dananya dialokasiakan dalam struktur APBD, termasuk peningkatan kualitas guru melalui pelatihan dan pendidikan yang berkesinambungan. Sayangnya, penyerahan urusan guru tidak dibarengi dengan penyerahan fiskal yang signifikan. Pendanaan guru khususnya honor-honor kegiatan guru masih berasal dari APBN yang dikemas dalam program BOS, salah satunya.

Penghapusan desentraliasi guru adalah wujud kita telah berbalik arah. Bukan lagi menengok tetapi mengulangi perbuatan yang pernah dianggap gagal. Desentralisasi ada, karena sentralisasi dianggap gagal. Desentralisasi untuk efektifitas dan efisiensi penyelenggaraan pemerintahan. Desentralisasi telah memangkas panjangnya birokrasi juga memangkas waktu dan tenaga.

Sekedar catatan, disetiap kewenangan/urusan melekat kekuasaan, fasilitas, dan uang. Saya menduga, urusan guru mau diambil kembali pemerintah pusat, karena ada kekuasaan, fasilitas dan uang atas urusan tersebut. Dan hal itu oleh pemerintah enggan di bagi ke daerah. Wallahu’alam (*)

Tentang Ade Suerani

tinggal di Kendari-Sultra, senang membaca ttg pemerintahan daerah. (email: ade.suerani@gmail.com)
Pos ini dipublikasikan di Pendapat Pribadi dan tag . Tandai permalink.

3 Balasan ke Penghapusan Desentralisasi Guru

  1. pemikiran saya sederhana saja bu, bagaimana mungkin guru bisa menjadi profesional dibidangnya yang dikenal dengan istilah sertifikasi pendidik, sementara nasibnya tidak menentu, karena di “korban”kan oleh kebijakan pemerintah daerah.
    Ada guru masih CPNS hanya karena keluarga pejabat bisa jadi Kepala Sekolah. Ada juga guru yang punya kompetensi bagus bahkan juara di Gurpres sampai tingkat nasional, eh…malah dipindahkan ke jabatan struktural.
    Yang lebih parah banyak guru dilibatkan dalam penggalangan massa di Pilkada. Jika tidak mau, ya..siap-siap saja dipindahkan ke daerah terpencil.
    Maka sudah selayaknya pemerintah pusat dalam hal ini Kementerian Pendidikan Nasional diberi ruang untuk menseriusi pengambilalihan kewenangan guru dari pemerintahan daerah kabupaten/kota, paling tidak lebih tertata dan terjamin keprofesionalitas seorang guru.

    terima kasih.

    salam blogger,

    • Ade Suerani berkata:

      Seperti dalam tulisan saya, ada fungsi yang hilang hingga pengelolaan guru termasuk PNSD menjadi amburadul. Apa itu?, pemerintah pusat lalai atas apa yang menjadi tugasnya, yaitu membina daerah otonom. Kegagalan otda saat ini, selalu yang disalahkan adalah daerah, padahal pemerintah pusat tidak bercermin, merekalah yang tidak menjalankan fungsi pembinaannya dengan baik. Pusatlah yang tidak konsisten menyelenggarakan otda, sehingga muncul stigma lepas kepala pegang ekor ataupun otonomi setengah hati.

  2. endangsarifudin berkata:

    Wacana Mendiknas sangat tepat, seperti saudara katakan dalam tulisannya pusat memberikan tanda arogansi. Saudara tidak melihat betapa lebih arogannya tindakan-tindakan daerah terhadap profesionalitas pendidik. Sikap ini yang tidak anda telaah. Kalau Pusat sekarang ingin menyelamatkan guru, pantas saja dijalankan karena banyak kebijakan daerah yang sudah keterlaluan melangkahi arti pendidikan itu sendiri. Pendidikan seharusnya tanpa kepentingan politik sesaat, Pendidikan itu bermartabat, dan sepanjang hayat, juga mulia. Pemikiran sederhana saya tidak mengatakan sentralisasi yang dulu pernah dilaksanakan itu gagal. Untuk NiP 13…dulu yang nota bene pegawai pusat segala sesuatu berjalan lancar dari segala pendukungnya, tanpa embel-embel apapun. Kalau perbandingan itu kita hubungkan dengan kondisi sekarang ooo…jauh berbeda. Jadi kenapa dihalang-halangi, apabila sesuatu yang lebih maslahat harus didukung dong.Toh itu juga berdasarkan fakta dan kajian yang nyata, tanpa omong kosong belaka seperti iklan dan dagelan. Intinya kalo arogan harus dilawan lebih arogan lagi lah. nyatanya begitu kondisi sekarang. Teruskan Pak Menteri.Kalau bisa mulailah dari bulan januari 2012 penarikan tenaga pendidik tersebut. Makasih

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s